Kebudayaan Jawa
·
SEJARAH
Jawa Barat sebagai pengertian
administratif mulai digunakan pada tahun 1925 ketika Pemerintah Hindia Belanda
membentuk Provinsi Jawa Barat. Pembentukan provinsi itu sebagai pelaksanaan
Bestuurshervormingwet tahun 1922, yang membagi Hindia Belanda atas
kesatuan-kesatuan daerah provinsi. Sebelum tahun 1925, digunakan
istilahSoendalanden (Tanah Sunda) atau Pasundan, sebagai istilah geografi untuk
menyebut Pulau Jawa di sebelah barat Sungai Cilosari dan Citanduy yang sebagian
besar dihuni oleh penduduk yang menggunakan Bahasa Sunda sebagai bahasa ibu.
·
PENDUDUK
Jawa Barat merupakan provinsi
dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Kerana letaknya yang berdekatan
dengan ibu kota negara maka hampir seluruh suku bangsa yang ada di Indonesia
terdapat di provinsi ini. 65% penduduk Jawa Barat adalah Suku Sunda yang
merupakan penduduk asli provinsi ini. Suku lainnya adalah Suku Jawa yang banyak
dijumpai di daerah bagian utara Jawa Barat, Suku Betawi banyak mendiami daerah
bagian barat yang bersempadan dengan Jakarta.Suku Minang dan Suku Batak banyak
mendiami Kota-kota besar di Jawa Barat, seperti Bandung,Cimahi, Bogor, Bekasi,
dan Depok. Sementara itu Orang Tionghoa banyak dijumpai hampir di seluruh
daerah Jawa Barat.
·
AGAMA
Majoriti penduduk di Jawa Barat
memeluk agama Islam (97%). Selain itu provinsi Jawa Barat memiliki
bandar-bandar yang menerapkan syariat Islam, seperti Cianjur, Kabupaten Tasik
Malaya, serta Kota Tasikmalaya diperlakukan kepada sebahagian besar warganya
yang menganut agama Islam. Agama Kristian banyak pula terdapat di Jawa Barat,
terutama dianut oleh Orang Tionghoa dan sebahagian Orang Batak. Agama minoriti
lainnya yang terdapat di Provinsi Jawa Barat adalahBuddha, Hindu dan
Konfusianisme
·
SENI DAN BUDAYA ( JAWA BARAT )
1. Alat Musik
Angklung
Angklung
sebuah alat musik tradisional terkenal yang dibuat dari bambu dan merupakan
alat musik asli Jawa Barat, Indonesia. Dulunya, angklung memegang bagian
penting dari aktivitas upacara tertentu, khususnya pada musim panen. Suara angklung
dipercaya akan mengundang perhatian Dewi Sri (Nyi Sri Pohaci) yang akan membawa
kesuburan terhadap tanaman padi para petani dan akan memberikan kebahagian
serta kesejahteraan bagi umat manusia.
Angklung yang tertua di dalam
sejarah yang masih ada disebut Angklung Gubrag dibuat di Jasinga, Bogor,
Indonesia dan usianya telah mencapai 400 tahun. Sekarang ini, beberapa angklung
tersebut disimpan di Museum Sri Baduga, Bandung, Indonesia.
Dengan berjalannya waktu, Angklung
bukan hanya dikenal di seluruh Nusantara, tetapi juga merambah ke berbagai
negara di Asia. Pada akhir abad ke-20, Daeng Soetigna menciptakan angklung yang
didasarkan pada skala suara diatonik. Setelah itu, angklung telah digunakan di
dalam bisnis hiburan sejak alat musik ini dapat dimainkan secara berpadu dengan
berbagai macam alat musik lainnya. Pada tahun 1966, Udjo Ngalagena, seorang
siswa dari Tuan Daeng Soetigna mengembangkan angklung berdasarkan skala suara
alat musik Sunda, yaitu salendro,pelog, dan madenda.
2.
Wayang Golek
Wayang Golek adalah boneka kayu
yang dimainkan berdasarkan karakter tertentu dalam suatu cerita pewayangan.
Dimainkan oleh seorang Dalang yang menguasai berbagai karakter maupun suara
tokoh yang dimainkan. Wayang golek sangat digemari oleh masyarakat Sunda khususnya.
Lazimnya wayang golek dipergelarkan pada malam hari sampai dini hari.
·
SENI TARI
1. Tari Jaipong

Tari Jaipong adalah tarian yang paling terkenal di Jawa Barat. Jaipong
adalah seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung,
Gugum Gumbira. Ia terinspirasi pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah
Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola
gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan atau Bajidoran atau Ketuk Tilu.
Sehingga ia dapat mengembangkan tarian atau kesenian yang kini di kenal dengan
nama Jaipongan.
b) Karya Jaipong pertama yang mulai dikenal
oleh masyarakat adalah tari “Daun Pulus Keser Bojong” dan “Rendeng Bojong” yang
keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri).
Awal kemunculan tarian tersebut semula dianggap sebagai gerakan yang erotis dan
vulgar, namun semakin lama tari ini semakin popular dan mulai meningkat
frekuensi pertunjukkannya baik di media televisi, hajatan, maupun
perayaan-perayaan yang disenggelarakan oleh pemerintah atau oleh pihak swasta.
c) Saat ini tari Jaipong merupakan salah satu
identitas kesenian Jawa Barat. Hal ini tampak pada beberapa acara penting saat
penyambutan tamu asing di daerah Jawa barat. Tari Jaipong banyak mempengaruhi
kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni
pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir
semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan
dengan Jaipong menjadi kesenian Pong-Dut.
2. Tari Ketuk Tilu

Tari Ketuk Tilu telah ada kira-kira
di era 1809, dimana ketika dibuatnya Grote Pas Weg, tarian ketuk tilu telah
dikenal oleh masyarakat luas di Jawa Barat.
Sebagai tarian rakyat tradisonal, tari ketuk tilu memiliki tata rias dan
busana khas.
Sesuai namanya Tarian Ketuk Tilu
berasal dari nama sebuah instrumen atau alat musik tradisonal yang disebut
“ketuk” sejumlah 3 (tiga) buah.
Sebagaimana musik pengiring tarian lainnya, instrumen ketuk tilu
dimainkan secara gabungan dari berbagai alat musik atau instrumen musik
tradisonal yang menciptakan harmoni lagu khas pengiring tarian maupun
nyanyiannya.
·
SENI BELA DIRI
Kesenian bela diri yang berasal
dari daerah Jawa Barat adalah Tarung Drajat. Olahraga Tarung Derajat diciptakan
oleh seorang putra bangsa Indonesia yaitu Sang Guru (Haji Achmad Dradjat,
Drs.), yang akrab disapa dengan nama populernya “AA-BOXER”. Olahraga ini
dilahirkannya sebagai suatu seni ilmu beladiri dengan memiliki aliran dan wadah
tersendiri tanpa berapliasi dengan aliran lain dan organisasi beladiri lainnya
yang ada di bumi Indonesia. Namun, keberadaan Tarung Derajat tidak muncul
dengan sendirinya, akan tetapi memiliki latar belakang suatu riwayat perjalanan
hidup Sang Guru.
Beladiri ini muncul dari pengalaman
hidup yang pernah dilakoni oleh Sang Guru sekitar tahun 1968 hingga tahun
1970-an, anak muda ini waktu itu sering terlibat aksi kekerasan pisik,
penganiayaan, perkelahian, pemerasan, dan penghinaan. Olahraga ini menciptakan
teknik beladiri dari berbagai beladiri yang pernah dipelajarinya yaitu
memadukan lima unsur
fungsi gerakan beladiri, seperti:
memukul, menendang, menangkis, membanting dan mengelak.
·
UPACARA ADAT
Adat istiadat yang diwariskan
leluhurnya pada masyarakat Sunda masih dipelihara dan dihormati. Dalam daur
hidup manusia dikenal upacara-upacara yang bersifat ritual adat seperti:
upacara adat Masa Kehamilan, Masa Kelahiran, Masa Anak-anak, Perkawinan,
Kematian dll. Demikian juga dalam kegiatan pertanian dan keagamaan dikenal
upacara adat yang unik dan menarik. Itu semua ditujukan sebagai ungkapan rasa
syukur dan mohon kesejahteraan dan keselamatan lahir bathin dunia dan akhirat.
·
NARASUMBER
·
D Indrawati (Asdep Pemberdayaan
Masyarakat/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)







0 komentar:
Posting Komentar